Minggu, 29 Maret 2015

Ko bisa

Kalau melihat berita jaman sekarang merasa aneh kebanyakan orang ko yang di cari dan dikejar sesuatu yang belum pasti. Terlihat apa yang saya katakan ngawur masa sesuatu yang tidak pasti dikejar itu namanya orang bodoh, mungkin sebagian orang akan mengatakan seperti itu. Disini masalahnya bagaimana cara dan menggunakan apa untuk melihat permasalahan yang sedan di bahas,

Sabtu, 10 November 2012

Penerimaan CPNS 2013 dikhususkan untuk Honorer



Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) Tasdik Kinanto di Jakarta kemarin (28/8) mengatakan, kepastian soal kebijakan rekrutmen CPNS baru tahun depan memang belum diputuskan secara resmi.
"Tapi kemungkinan besar memang tidak ada alokasi CPNS baru untuk pelamar umum," kata dia. Sebab, tahun depan Kemen PAN-RB berupaya mengentaskan tunggakan pengangkatan tenaga honorer Kategori II (K II) atau yang tidak digaji dari APBN atau APBD. Tasdik mengatakan jika jumlah tenaga honorer K II ini lumayan besar. Yaitu mencapai 600 ribu orang. Jika tidak segera diangkat, mereka akan terus menagih dan membuat pemerintah pusat tidak bisa bekerja untuk urusan lainnya. "Jadi mereka kita prioritaskan dulu," kata dia. 
Sistem pengangkatan tenaga honorer K II ini berbeda dengan pengankatan tenaga honorer Kategori I (digaji APBN atau APBD). Seperti diketahui, akhir tahun ini tenaga honorer K I akan diangkat langsung tanpa tes. Sedangkan untuk pengangkatan tenaga honorer K II wajib dilakukan dengan tes tulis. Tasdik mengatakan, tes tulis ini mirip dengan tes CPNS baru pelamar umum yang akan dijalankan 8 September mendatang.
Tasdik menjelaskan, dalam tes tulis nanti tidak semua tenaga honorer K II ini diangkat menjadi CPNS. Tetapi jumlah tenaga honorer K II yang diangkat nantinya disesuaikan dengan kukuatan APBN 2013 yang akan disahkan beberapa bulan lagi. Tasdik belum bisa mengatakan secara pasti jumlah tenaga honorer K II yang akan diangkat menjadi CPNS tahun depan.
Secara teknis pembuatan soal untuk seleksi ini, dia mengatakan tetap digarap oleh konsorsium 10 PTN yang diketuai UGM. Standar kesulitan soal masih disembunyikan oleh tim dari konsorsium ini. "Intinya jika belajar dengan sungguh-sungguh, insyallah bisa mengerjakan soal," ucap Tasdik.
Tasdik menegaskan, tidak adanya kuota CPNS baru dari pelamar umum bukan berarti masa moratorium rekrutmen CPNS baru diperpanjang. Seperti sudah ditetapkan, masa moratorium CPNS baru akan berakhir akhir tahun ini. Sehingga pada 2013 seluruh instansi pusat dan daerah berhak meminta kuota CPNS baru.
"Tetapi itu tadi, prioritas kami adalah mengangkat tenaga honorer K II dulu," ucap dia. Perhitungan dari Kemen PAN-RB, lowongnya kursi PNS yang ditinggal pegawainya pension, bisa ditambal dengan rekrutmen CPNS baru dari gelombang tenaga honorer K II itu


PPCI: Penerimaan CPNS 2013 dikhususkan untuk Honorer, ditutup bagi Masyarakat Umum atau Pelamar Umum | pengumuman cpns 2012 - 2013 casn asn 

Senin, 05 November 2012

Perjuangan Guru di Daerah Terpencil

 

Hanya segelintir orang yang mau dan bisa hidup dalam dunia yang serba terbatas. Tapi, tidak bagi para guru-guru yang mendidik para pelajar di daerah-daerah terpencil, seperti guru-guru yang mengajar di SDN Tumpakrejo 10 Kecamatan Kalipare. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka mau mengorbankan sebagian kehidupannya untuk menggodok anak-anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang wajar dan berkualitas.
Kabupaten Malang masih memiliki 105 desa terpencil yang membutuhkan perhatian khusus dari Pemkab Malang. Di desa terpencil itu banyak memiliki sekolah-sekolah yang terpencil pula yang kondisinya sangat mengenaskan dengan segala keterbatasannya. Salah satunya di SDN Tumpakrejo 10 Kecamatan Kalipare. Untuk menempuh lokasi SDN Tumpakrejo 10 harus melalui jalan rusak, mirip dengan makadam sekitar tiga kilometer. Dari pusat desa jaraknya sekitar empat kilometer. Jalan naik turun, khas daerah perbukitan semakin membuat sulit untuk mencapai sekolah yang berada di Jurang Dandan itu.
Di sekolah itu, hanya ada dua bangunan yang digunakan untuk belajar. Satu kelas dengan ukuran sekitar 7 meter x 6 meter untuk empat kelas dan satu ruang ukuran sekitar 2,5 meter x 3 meter untuk dua kelas. Ada sekitar 50 siswa yang belajar dari kelas 1 sampai kelas 6 dengan jumlah guru sebanyak 6. 2 guru PNS dan sisanya guru GTT yang diminta membantu mengajar di sekolah kategori kecil itu. Jika ada try out kelas 6, tiga kelas praktis harus belajar di ruang kelas dengan menggelar alas.
Dua guru GTT intens mengajar di SDN Tumpakrejo 10, Vinis Estianingsih dan Lailatul Ulfa. Dua lainnya, mengajar juga di sekolah lain. Karena intensitas mengajarnya tidak full dalam satu minggu.
Vinis Estianingsih, salah satu guru GTT yang paling lama mengajar di SDN terpencil itu. Lokasi rumahnya berjarak 2 kilometer dari sekolahnya. Meski hanya 2 kilometer, tapi medan yang harus dilaluinya sangat berat dengan sepeda motor yang dikendarainya. Jalan rusak dengan batuan yang terjal. Hal itu sudah dilakoninya sejak tahun 2005 lalu hingga saat ini.
Meski harus melalui medan berat, Vinis tetap semangat untuk terus menggodok anak-anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang wajar dan berkualitas. Mereka butuh terus ditingkatkan kualitas dan profesionalismennya serta terus digelorakan semangatnya menghadapi tugasnya di daerah terpencil.
Bahkan, Vinis pernah terjatuh dari sepedanya karena jalan yang licin setelah hujan. Kakinya sempat terkilir dan seragamnya basah karena terkena lumpur. Dengan seragam yang basah dipenuhi lumpur, Vinis tetap berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah, dia sempat nangis melihat siswanya yang menunggu di sekolah untuk diajar. Mengetahui kondisi gurunya yang berlumuran lumpur, para siswanya berusaha membantu sang guru tercintanya. Mereka ikut membersihkan Lumpur yang ada di pakaian Vinis dengan memandikan bersama. Saking terharunya, Vinis beruraian air mata.
“Saya sempat dimandikan anak-anak. Itu yang membuat saya terharu. Mereka perhatian terhadap gurunya. Ini yang membuat saya tetap berjuang di sekolah terpencil ini,” ujar Vinis sambil menitikan air matanya.
Perjuangan yang dilakukannya tidak setara dengan apa yang diterimanya. Setiap  bulannya dengan jadwal mengajar mulai senin sampai Sabtu, Vinis hanya mendapatkan bayaran Rp 100 ribu per bulan. Itupun diberikan tiga bulan sekali yang diambilkan dari dana BOS.
“Mereka itu tidak dibayar. Karena hanya Rp 100 ribu per bulan. Mereka itu guru-guru yang benar-benar mengabdi dan berjuang untuk generasi mendatang,” ujar Kepala SDN Tumpakrejo 10, Sariyem Binti Yahya.
Hal yang sama juga dilakoni, Lailatul Ulfa. Guru GTT yang sudah mengajar selama delapan bulan tergerak hatinya untuk membantu mengajar di SDN Tumpakrejo 10 itu. Mahasiswa salah satu PTS di Kota Malang itu mengabdikan dirinya dengan mengajar di SDN terpencil. Alasannya, dia trenyuh melihat semangat anak-anak desa untuk belajar. Lokasi rumah dengan sekolahnya sekitar 4 kilometer dengan medan yang sangat berat.
“Kami semua terharu dengan semangat anak-anak belajar. Awalnya, di SDN ini kekurangan guru untuk mengajar anak-anak,” terang Ulfa.
Kepastian dan kem`ntapan hidup guru daerah terpencil perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh dengan patokan standar hidup yang layak di daerah terpencil. Kesejahteran guru, tidak hanya PNS, non PNS (honorer dan swasta) pun perlu mendapat perhatian, sehingga tidak hanya alasan pengabdian saja, keberuntungan pun mereka dapatkan dari tujuan mereka hidup yang hakiki.

Minggu, 04 November 2012

Anda Guru yang Mana ?

Anda Guru yang Mana?

Nihil Jumlah guru secara nasional sekitar 2,9 juta. Ternyata masalah guru itu taklah tunggal atau monolitik. Banyak variannya, laiknya ketika memilih penganan khas tradisional Minang di Senen, Jalan Kramat Raya. Ada pisang goreng, ketan, tapai itam, lamang panggang, sarikayo, lapek bugih dan masih banyak lagi. Agak serupa modelnya dengan guru. Istilahnya bejibun, tapi tetap satu peran yakni sebagai pendidik.
1. Guru PNS Kemendikbud
Guru yang ini dijamin oke. Status pegawai negeri sipil alias PNS. Masa depan dijamin. Ada pensiun plus tunjangan anak. Apalagi yang sudah lulus sertifikasi plus PNS di Jakarta. Ada tunjangan sertifikasi (pusat) ditambah TKD DKI Jakarta (Tunjangan Kinerja Daerah). Berada pada level convert zone (zona nyaman). Banyak yang berkompetisi menjadi guru PNS. Boleh di daerah apalagi di Jakarta. Tugas hanya mengajar, mengajar dan mengajar. Identik dengan anggota PGRI. Inilah realita guru PNS Kemendikbud, benar-benar aman dan nyaman.
2. Guru PNS Kemenag
Perbedaannya terlihat di nomor induk pegawai (NIP). Lulus tes CPNS via Kementerian Agama (Kemenag). Mengajar di satuan pendidikan (sekolah) di bawah yurisdiksi Kemenag. Status sama yakni PNS. Masa depan dijamin dan ada tunjangan anak plus dana pensiun. Yang sudah lulus sertifikasi dapat tunjangan lagi. Walaupun pola distribusi tunjangan sertifikasinya berbeda dengan pola Kemendikbud. Tapi sama-sama sudah nyaman. Khususnya yang di ibu kota. Biasanya mengajar di madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyyah (MTs) atau madrasah aliyah (MA). Bisa juga guru agama di sekolah-sekolah negeri umum (di bawah Kemendikbud). Umumnya masuk PGRI juga.
3. Guru Honorer Sekolah Negeri
Nasibnya jauh berbeda dengan guru PNS di atas. Statusnya guru honor. Honor dari sekolah. Nominalnya tergantung jam pelajaran ditambah kebijakan kepala sekolah (komite sekolah). Saya punya teman ngajar sebagai guru honor di SMA Negeri di Jakarta, honornya benar-benar horor. Sebulan digaji Rp. 200.000, itupun dipotong pajak. Para guru honorer ini sedang menuntut haknya untuk diangkat menjadi PNS. Tapi pemerintah beralasan Peraturan Pemerintahnya (PP) belum rampung. Jadi nasibnya terkatung-katung. Hampir tiap minggu demonstrasi di depan istana negara, kantor kemendikbud bahkan di depan gedung MPR. Banyak yang ogah masuk PGRI. Punya persatuan guru honorer seindonesia. Walaupun bagi yang honor di sekolah negeri di kota-kota, agak takut dan tak bernyali jika ikut demonstrasi. Takut di foto, jika nantinya dilihat oleh BKD (Badan Kepegawaian Daerah) lantas dipersulit pengangkatan PNS-nya. Bisa-bisa tak diangkat menjadi PNS DKI karena pernah mendemo pemerintah. Ikhtiar menjadi PNS tengah di-jihad-kan oleh kawan-kawan kita yang satu ini.
4. Guru Tetap Yayasan
Hampir serupa sebenarnya dengan guru PNS di sekolah negeri. Status saja yang beda. Yang satu pegawai negeri, yang ini pegawai swasta (yayasan). Bagi yang sudah lulus sertifikasi mendapatkan tunjangan sertifikasi. Khusus yang tinggal di Jakarta dapat TKD pula. Relatif aman karena sudah punya penghasilan tetap dan status pegawai swasta. Walaupun tergantung juga dengan yayasan yang menaunginya. Tak sedikit pula ada yayasan sekolah yang horor, karena gajinya minor. Untuk status memang sudah jelas, yakni guru tetap yayasan. Walapun tak seperti guru PNS yang dapat dana pensiun rutin.
5. Guru Tidak Tetap Yayasan
Yang ini hampir serupa pula dengan guru honor. Adakalanya disebut juga dengan guru honor. Statusnya guru honor/tidak tetap yayasan. Biasanya guru muda atau yang belum selesai kuliah S-1. Bisa juga yang hanya tamatan SPG-D3. Umumnya guru honor yayasan ini nasibnya sama dengan guru honor lainnya. Belum memiliki gaji pokok atau tunjangan. Honor dibayarkan sesuai jumlah jam mengajar saja. Biasanya mengajar di beberapa sekolah, demi menutupi kebutuhan hidup. Jarang sekali yang masuk PGRI, tapi tergabung dalam persatuan guru honorer Indonesia. Kelompok ini bisa dikatakan guru “pejuang”. Karena mesti terus berjuang menuntut kesejahteraan mereka.
6. Guru PNS Diperbantukan di Sekolah Swasta
Beberapa teman penulis statusnya sebagai guru diperbantukan di sekolah swasta. Statusnya tetap sebagai PNS, tapi aktivitas mengajarnya di sekolah swasta. Kebijakan pemerintah memang sangat ruwet dan ribet. Guru bantu yang model ini berstatus PNS tapi tugas mengajarnya di sekolah swasta. Bahkan banyak juga guru bantu PNS ini yang sudah jadi pegawai tetap di sekolah swasta tersebut. Pada akhir Desember 2011 kemarin, pemerintah kembali menarik dan mereposisi para guru bantu di sekolah swasta ini, untuk bertugas di sekolah negeri. Lalu merekapun meninggalkan status sebagai guru tetap yayasan. Complicated memang menjelaskannya. Tapi ini adalah potret betapa tak mudahnya mengurus dan mengatur distribusi guru secara nasional.
7. Guru PTT (Pegawai Tidak Tetap) Pemda
Guru model ini khas kebijakan Pemda di daerah-daerah. Lebih menonjol terlihat di Jakarta. Misalnya Jakarta, akibat kebijakan pemerintah DKI yang mengangkat guru PTT (Pegawai Tidak Tetap) Pemda. Mereka mengajar di sekolah negeri. Guru PTT ini ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah negeri di Jakarta. Khusus di Jakarta, para guru PTT ini sudah selesai diangkat menjadi PNS DKI Jakarta sekitar 2010. Bersamaan itu pula, guru honorer di sekolah negeri di Jakarta, pun meminta status yang sama yaitu menjadi PNS DKI. Tapi sampai saat ini khusus guru honorer di sekolah negeri DKI tak kunjung diangkat juga.
8. Guru SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal)
Adalah program pemerintah pusat untuk mendistribusikan tenaga pendidik ke daerah-daerah terluar dan tertinggal, seperti di pulau-pulau terluar berbatasan langsung dengan negara lain. Status mereka adalah PNS. Mereka pun memperoleh tunjangan khusus guru di daerah tertinggal. Walaupun negara memberikan apresiasi yang cukup tinggi (melalui beragam tunjangan), tapi beban kerja mereka sangat berat. Sebab tantangannya adalah infrastruktur di daerah, harga kebutuhan pokok yang mahal, akses informasi yang sangat minim, kultur masyarakat sekitar bahkan nyawa risikonya. Karena untuk menuju sekolah (rumah warga/pondok tempat belajar), harus masuk hutan ke luar hutan.
9. Guru Ngaji
Khusus status guru yang terakhir ini tak masuk dalam daftar inventarisasi guru baik di Kemendikbud maupun di Dinas Pendidikan Daerah. Apa sebab? Guru mengaji adalah para pendidik yang tak mengharapkan status atau pengakuan dari negara. Mereka cukup diakui oleh masyarakat kampung dan Tuhan Yang Maha Esa. Bukan hendak mendikotomikan secara diametral antara guru versi negara dengan guru versi agama (Tuhan). Tapi realitanya, guru mengaji taklah memperoleh apresiasi apapun dari negara. Jangankan tunjangan kinerja, terdaftarpun tidak dalam catatan negara. Yang memberikan penghargaan sangat tinggi cukup masyarakat dan Tuhan. Cukup dibayar dengan segelas beras, atau sesisir pisang bahkan seikat daun singkong dari orang tua murid.
Tak jarang guru yang satu ini terlupa dari sibuknya demonstrasi menuntut status PNS atau tunjangan kinerja di ibu kota. Untuk mengaji taklah harus persiapan apa-apa. Tinggal bawa badan dan kemauan saja. Karena guru pun di rumah atau di surau kecilnya sudah menyediakan Juz ‘Amma dan Iqra yang berumur sudah tua. Terlihat agak kusam warna sampul dan lembarannya. Tapi semangat mengigat Tuhan tak kunjung terhenti dari mulut si guru bersama para muridnya. Di sisi lain para orang tua berlomba dan bersusah payah mencari rupiah agar anaknya terus bersekolah. Tapi si anak sangat gugup dan terbata-bata ketika disuruh membaca Al-Fatihah atau Al-Baqarah.
Silahkan kita memilih, guru yang manakah anda? Satu hal yang menjadi catatan adalah betapa masih runyamnya masalah guru nasional kita. Segeralah (para guru) berbenah, jika mendidik adalah panggilan Tuhan, bukan karena faktor sekedar menjadi pekerjaan.

diambil dari Kompasiana

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More